10 Juli 2024

Diduga Asal Jadi, Proyek Pemeliharaan Jalan Kilo 6 Salakan Disorot Warga

0


Foto1 : Kondisi pengerjaan aspal di ruas jalan kilo 6 Salakan yang disorot warga karena diduga asal jadi. Foto ini diambil beberapa waktu lalu usai proses pekerjaan pelaburan. (ist)

Bangkeppos.com, SALAKAN- Pekerjaan pengaspalan diruas jalan kilo 6 Salakan, di wilayah desa Saiyong, Kecamatan Tinangkung, Bangkep, disorot warga.

Pasalnya pengerjaaan kegiatan swakelola pemeliharaan rutin yang berasal dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang dengan pagu senilai Rp160 juta tersebut, diduga asal jadi dan tidak sesuai spek.

Spekulasi itu dikuatkan dengan laporan sejumlah warga yang sering melintas di jalur tersebut, dimana pengaspalan dinilai buruk karena tidak rata, dan pasir tampak berhamburan di sepanjang ruas jalan.

Menyikapi itu, Staf Bidang Jalan Jembatan Dinas PUPR Provinsi Sulteng, yang juga sebagai PPTK, Andika Wastu Budiawan menjelaskan, alat yang digunakan untuk pekerjaan itu belum maksimal. Sehingga membuat beberapa permukaan aspal tidak rata, namun bukan seluruhnya menjadi tidak merata.
“Namun kami akan selalu upayakan permukaannya merata,” kata Andika, Selasa (3/8/2021) saat dihubungi media ini.

Menurutnya, proses kerja pengaspalan badan jalan tidak dilakukan sekaligus satu badan jalan. Melainkan hanya setengah-setengah badan jalan.
“jadi bisa tidak merata penyiramannya karena alat yang kurang maksimal pada saat itu,” terangnya.

Mengenai sebagian pasir yang berhamburan, Andika akan memerintahkan kepada pelaksana di lapangan untuk segera membersihkannya.
“Sebagian pasir yang bapak liat berhamburan nanti akan dibersihkan. Meskipun info dari pengamat lapangan pasir yang berhamburan sudah bersih.” ucapnya.

Sekadar diketahui, DPD JPKP Kabupaten Bangkep juga turut menyorot kondisi pengaspalan jalan tersebut.

Organisasi ataupun lembaga yang diketuai oleh Rano Lamahung itu menduga, spek pekerjaan sepertinya tidak sesuai, dan bahkan terkesan tidak menggunakan asphalt sprayer.
“Kalau menggunakan alat sparayer tentu aspalnya merata. Sebab setelah material pasir hilang, justru kondisinya terlihat sama dengan kondisi awal jalan tersebut, artinya bahan aspalnya itu masih kurang,”terangnya.

Rano juga tak mempermasalahkan terkait cara kerja pengaspalan yang dilakukan pemakaian setengah-setengah di badan jalan.
“Tetapi yang jadi masalah disini adalah; penghamparan aspalnya yang terkesan seperti dikerjakan manual, akibat penyiraman aspalnya yang tidak merata,”tandasnya. (ir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!